Selasa, 28 Desember 2010

HIRUK PIKUK RUMAH TANGGAKU Bag.1


Tepatnya Hari Minggu tanggal 19 Desember 2010 pukul 08:30 WIB, Aku menikah dengan Fariz Reza Aji Mandiri. Pesta pernikahan kami cukup  meriah. Dengan 6 Lokal Tenda VIP warna merah dengan warna kuning emas. Disertai hiburan mapag panganten upacara adat khas sunda, sawer penganten, Band, dan hiburan malam seni calung dari karawang.  Meskipun aku berasal dari keluarga yang sederhana aku tak ingin melewatkan moment pernikahanku dengan sederhana. Aku ingin berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga. Karena pernikahan akan berkesan apabila di dalamnya ada kenangan yang sangat indah.
                  Singkat saja …satu minggu setelah pernikahan kami, Reza yaitu suamiku, ia berubah total berbeda 99% dari sebelum kami menikah. Ia menjadi  seorang lelaki yang mudah marah, sentiment, dan seolah tidak mempedulikan perasaanku lagi. Hari ini tanggal 28 Desember 2010, pagi yang cerah aku baru saja hendak pulang dari rumah orang tua nya Reza, kemudian aku lupa kalau ikat pinggangku ketinggalan saat kami masih berada di depan rumah orang tua nya reza. : “ aduh..kok kayanya ikat pinggang aku ketinggalan dech..” ucapku. Kemudian Reza berkata : “kok kayanya? Ambil dong sana!” dengan mata melotot penuh kesal. Aku hanya diam dan tak lagi mempedulikan ikat pinggang yang hilang itu.
Selama perjalanan pulang ke rumahku, aku diam dan tak ingin bicara dengannya. Apakah aku yang
Terlalu manja dan cengeng?,kalau aku merasakan Reza  tak peduli dengan perasaanku. Apakah aku sakit atau tidak, tersinggungkah dengan perkataan dan sikapnya? Sama sekali Reza tak berfikir seperti itu.
Kemudian sebelum ke rumah aku ingin membeli  es kelapa muda (degan) yang berada di pinggir jalan. Setelah membeli Es kelapa itu, aku baru ingat kalu Handphone ku tertinggal di rumah orang tuanya Reza. Lalu dengan muka berang dan penuh kekesalan serta kekecewaan padaku  lalu ia berkata : “ Kabel data aja gak ketinggalan hp bias ketinggalan! Ketinggalan apa ilang?” dia bertanya dengan nada tinggi. Sejenak aku terdiam mengingat ingat kembali, memang benar handphone ku tertinggal di rumah orang tua nya Reza.
              “ketinggalan di kamar…”sahutku dengan air mata yang tertahan. Aku gak menyangka Reza mengulangi kesalahannya dengan bicara padaku seolah-olah aku bukan istri nya yang harus di sayangi dan di kasihi. Setelah tiba di rumah orang tua ku, akhirnya ayahku  memastikan kembali padaku kalau handphone ku benar – benar ketinggalan. Karena ayahku sempat menelpon ku, Awalnya aku sendiri pun ragu kalau handphone ku ketinggalan, tapi setelah ayahku berkata seperti itu aku mulai lega. Ketika aku hendak masuk kamar, karena pikirku aku ingin meminum es kelapa yang ku beli untuk diminum berdua di kamar.
Akan tetapi aku tak habis pikir, kalau Reza ternyata tidak mengizinkan aku masuk kamar dia menyuruhku untuk makan es kelapa di ruang tamu dan dia menutup pintu kamar rapat-rapat. Sedih…ya memang  sedih, tapi aku coba sabar dan harus mengerti watak dan sikap suamiku itu. Setelah aku menghabiskan es kelapa degan itu, tak lama aku melihat lemari es dan ingin masak untuk makan siang suamiku, kebetulan ada bahan untuk sayur sop lalu aku memotong bahan -bahan sayur sop itu. Aku ingin ketika suamiku bangun tidur nanti, aku sudah menyiapkan makan untuknya. Rasanya air mataku terus saja berjatuhan tak henti-henti, aku tak kuasa menangis ketika memotong bahan - bahan sayur sop itu. Rasanya pedih sekali,aku bertanya mengapa Reza suamiku seperti itu? Apakah karena aku tidak membantunya cari uang hingga ia berbuat seperti itu padaku?
Tepat pada pukul 12:30 aku membangun kan Reza yang sedang terlelap tidur untuk makan siang bersama. Aku senang sekali apabila suamiku  menyukai masakanku, istri mana sih yang tidak senang apabila suaminya menyukai masakan yang telah dibuatkan oleh istrinya yang penuh dengan cinta dan kasih saying. Singkatnya sore pun tiba, aku hendak menginap lagi di rumah orang tuanya Reza, karena orang tuanya Reza sedang berkunjung ke rumah saudaranya yang di luar kota. Reza pun sama, dia akan pergi untuk kerja shift malam dan akan pulang esok hari. Saat Reza hendak mengeluarkan motor dari pintu belakang  tepatnya di dapur,lalu Reza memanggil namaku “ icut bantuin dong…” nama icut berasal dari icha dan nama icha adalah nama panggilanku sehari-hari. Aku sungguh tidak menyangka Reza teriak sembari berkata seperti itu. Sungguh rasanya ingin sekali aku menangis..! “ Ya Allah..sadarkanlah suamiku.ya Allah” jeritku dalam hati.
Ketika hendak berangkat tiba-tiba saja hujan turun begitu lebat…awalnya aku melihat cuaca yang tidak nyaman dan awan yang gelap yang melaju dengan cepat. Kami berdua sejenak berteduh dari hujan yang dinginnya menggerogoti sel-sel kulit ku. Setelah hujan mulai reda, kami pun melanjutkan perjalanan. Anehnya ketika di perjalanan air mataku mengalir bercampur dengan air hujan yang mengalir dipipiku. Selama perjalanan menuju rumah orang tuanya Reza aku menangis tak henti-hentinya. Hanya dalam satu hari Reza sudah melakukan tiga kesalahan yang membuatku sakit hati. Untung saja saat itu hujan, jadi Reza pikir air mata ini adalah air hujan.
                                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar