Sabtu, 22 November 2014

STRONGEST MOTHER karya : Zavas Faisha Amsyar

Bunda, bagiku adalah seorang malaikat.aq tak pernah menginginkan air mata bunda menetes. apalagi melihat bunda bersedih. awal cerita aq berasal dr keluarga broken home, bunda dan ayah memutuskan untk berpisah ketika usiaku 3 tahun, dan usia adik ku fares 1 tahun. mereka berpisah krn ada org ketiga, dan sudah tidak ada keharmonisan dan kecocokan. semenjak itu, aq dan adikku ikut dengan nenek, yaitu org tua.dr bundaku. semenjak bunda dan ayah berpisah, aq tak melihat lg kebahagiaan yg terpancar dr wajah bunda, dia lebih banyak diam dan merenung, sesekali aq melihat mata nya yg berkaca kaca menahan perih dan meteskan air mata. bunda bekerja untuk kami, mencukupi.kebutuhan kami.berdua. aq pun bsa merasakan beban pikiran yg bunda rasakan, ia hrs menjadi peran seorang ayah yg mencari.nafkah.dan hrs menjadi peran seorang ibu yg memberikan perhatiannya kpd anak" nya. bunda menemui kami satu minggu sekali, apabila.hr minggu tiba, bunda selalu memperhatikan kami, menyuapi kami makan, memandikan kami, dan aq pun selalu mencari perhatian bundaku, aq banyak bertanya, aq minta d pijit, jika badanku gatal minta d bedakin meskipun aq seorang kakak tp aq cenderung terlihat manja melebihi adikku, krn aq tak mau bunda lebih memperhatikan fares adikku, dan krn aq hanya memiliki bunda. bunda cantik, aq sayang bunda, aq kangen bunda, bunda ga boleh sedih, bunda msh memiliki kami berdua, apapun keputusan bunda kami berdua akn berada d belakang bunda yg slalu siap melindungi dan mendukung bunda. singkat cerita, ayah menghianati bunda ia lebih memilih hidup dgn perempuan lain seorang janda beranak satu dan meninggalkan kami bertiga. bunda baru mengetahui hal itu lewat media sosial bahwa ayah memiliki akun facebook lain dan menggunakan nama samaran nama orang lain. bunda melihat ayah dan perempuan itu saling berkomentar status dengan kata kata mesra. aku bsa merasakan betapa hancur nya perasaan bunda saat itu. bersambung...

SUAMIKU LEBIH MEMILIH JANDA DAN MENINGGALKAN AKU DAN ANAK-ANAK

Nama saya anisa, saya menikah di usia 22 tahun dan suami saya 24 tahun, kami menikah pd tanggal 19 desember 2010. Dan sudah di karuniai 2 orang putra. Sejak awal menikah, saya baru menyadari bahwa suami saya ternyata laki-laki yang ringan tangan. Saya kerap kali mendapatkan kekerasan fisik dari suami saya. Mungkin sudah tak terhitung lagi berapa kali ia memukul saya. saya sudah terbiasa dengan tamparan, pukulan, tonjokan, kepala  saya di jedotin ke tembok, leher saya di cekik kepala saya di injak, bahkan mulut saya pernah ia tonjok berkali kali hingga berdarah badan saya dilempar dan banyak luka memar bekas pukulan . Kemudian setelah ia memukul saya dengan mudah nya ia meminta maaf. Dan ia lakukan lagi untuk kesekian kalinya. Saya selalu memafkan kesalahannya. Dan bukan hanya kekerasan fisik saja, dia juga tipe suami yang kasar dalam bertutur kata. Temperamental, egois selalu ingin menang sendiri.
Ia juga sering memarahi saya di depan umum, di depan orang banyak tak sungkan ia memarahi saya dengan kata-kata kasar dan sebutan nama-nama binatang. Saya merasakan kehidupan saya yang seperti di neraka. Tak ada kebahagiaan, dan keharmonisan, selama ini saya bertahan hanya untuk anak-anak. Bukan hanya itu, pada awal tahun 2014 suami saya menjadi pemalas dalam menafkahi keluarga. Kami memiliki usaha sejenis game online dan dana nya kami pinjam dari bank. Namun suami saya jadi malas untuk berangkat bekerja. Sehari-harinya selalu sibuk dengan bermain game online dan facebook. Hingga akhirnya suami saya tidak mampu membayar cicilan hutang ke bank, dan suami saya pun dikeluarkan dari tempat kerja nya karena jarang masuk kerja. Kami menunggak cicilan ber bulan bulan hingga pada puncaknya bulan agustus 2014 kami benar-benar kehilangan segalanya. Rumah kami dari hasil pemberian orang tua nya terpaksa kami jual untuk membayar cicilan dan denda nya.
Satu bulan saya dan anak-anak menetap di rumah orang tua nya karena ia menganggur dan tidak ada penghasilan sama sekali untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dan ternyata nasib baik pun tiba, saya mendapat panggilan kerja dan diterima bekerja. Saya mendapatkan pekerjaan yang memiliki jabatan sebagai staff hrd. Sedangkan suami saya masih menganggur. Kami memutuskan untuk pindah mencari rumah kontrakan agar tempat tinggal saya dekat dengan lokasi kerja. Kami pun memutuskan untuk menitipkan kedua anak kami tinggal dan di rawat oleh kedua orang tua saya.
Tak lama satu minggu setelah saya bekerja, suami pun mendapatkan pekerjaan baru. Sebagai staff desain layout di redaksi Koran. Kami hanya tinggal berdua di rumah kontrakan kami menengok anak-anak kami setiap hari minggu sekali. Suamiku bekerja di malam hari dari jam 4 sore pulang jam 12 malam. Akan tetapi ada keganjalan yang terlihat dari tingkah suamiku. Dia bekerja sore tapi selalu stay di kantor dari pagi hingga malam. Dia menjemput aku pulang kerja tetapi ia harus kembali ke kantor dengan alasan kerja.
Dan saya mempercayainya, semakin lama ia semakin kerasan di kantor hingga ia pulang larut malam. Terkadang ia pulang jam 2 pagi, jam 3 pagi bahkan jam 6 pagi. Aku merasakan nya satu minggu pertama di awal bulan November ia bahkan menginap di kantor dan tak pernah pulang. Aku pun mulai tak nyaman dengan kondisi seperti ini hingga akhirnya kami berdua sering cekcok dan tak ada lagi keharmonisan. Ia pun tak pernah tentu memberikan nafkah. Ia bernagkat kerja pagi, dan pulang pun pagi . kami hanya bertemu bila aq berangkat kerja dan menjemput ku di kantor. Setiap aku menanyakan nafkah ia selalu punya banyak alasan. Belum gajian, gajiannya di tunda, dan gajinya hanya separuh. Aku benar benar tak nyaman dengan keadaan seperti itu. Waktunya terlalu banyak ia habiskan untuk bekerja di luar, tak ada perhatian untuk saya dan anak-anak tetapi tidak ada timbal balik dari waktu yang telah ia habiskan. Dan di satu minggu pertama awal bulan pun ia sering mencari masalah dengan saya. Seolah-olah ia ingin memojokan saya sebagai seorang yang bersalah. Menurutnya saya wanita yang terlalu banyak menuntut dalam hal materi. Padahal saya hanya meminta kewajiban ia sebagai seorang suami. Karena pendapatan saya sudah habis untuk membeli susu anak-anak, bayar sewa kontrakan, dan membayar hutang suami saya.
Ia menginginkan berpisah tidak ingin menemui saya selama satu bulan lamanya. Saya sudah tak sanggup untuk menahan sabar dan akhirnya saya putuskan untuk mengadukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Sebelum saya daftar pengaduan ada hal yang membuat saya tercengang. Ia mengganti kata sandi facebook kemudian facebook nya saya verifikasi ke email dia. Dan saya melihat inbox dia dengan temannya. Bahwa dia akan mabuk-mabukan dan sewa pelacur.
Bukan hanya itu, 2 hari setelah saya pengaduan ke pengadilan agama, ada hal yang membuat hati saya hancur. Saya melihat dia memiliki akun palsu dengan nama samara orang lain dengan photo profil dia dan photo sampul perempuan. Ketika saya selidiki ternyata akun facebook itu akun yang lama yang selama ini saya cari tapi tak ada. Ia sengaja memblokir facebook saya agar saya tidak bisa melihat akun facebook nya dia yang palsu. Karena saya bisa mengetahui akun facebook nya yang palsu itu dari akun facebook nya saya verifikasi ke emailnya dia.
Saya melihat pada tanggal dan hari dimana mereka berdua berkomentar mesra pada saat itu pula suami saya masih mengantar jemput saya kerja. Diamana ia bisa perhatian dengan perempuan lain tetapi di jam dan hari itu juga ia massage ke saya dengan perkataan kasar, dan penuh kebencian seolah olah memang ingin meninggalkan saya karena sudah ada pengganti saya. Di saat itu saya baru sadar ternyata apa yang selama ini membuat ia bersikap aneh dan berubah ada factor lain yang menjadi alasannya. Ia laki-laki yang posesive terhadap saya. Ia sangat pencemburu pada saya, ia melihat saya berteman di kontak b
b dengan laki-laki saja ia marah. Hingga menuduh saya telah berselingkuh. Ternyata tuduhan yang ia tujukan pada saya hanya untuk menutupi kesalahannya. Bahwa sebenarnya ia yang telah menghianati saya sejak dulu.
Setelah saya tau ia memiliki akun facebook yang lain, saya meminta  ia untuk menjelaskan semua nya. Kenapa ia bisa dengan tega menyakiti saya dan mengecewakan anak-anaknya. Saya pun menghilangkan ego saya demi anak-anak untuk menahan dia agar jangan meninggalkan kami. Tapi saya mendengar jawaban yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bahwa ia lebih memilih perempuan itu, ia tak ingin meninggalkan perempuan itu, ia tak ingin melukai hati perempuan itu, tapi ia bisa melukai hati saya dan mengecewakan anak-anak nya. Ia tetap pergi dan berjanji tak akan merubah keputusannya. Saya sudah cukup kecewa dan terlalu sakit untuk menerima semua kenyataan ini. Mereka sudah berkomitmen dari dulu untuk merencanakan semua ini. Perempuan itu teman sekolah nya dulu, perempuan itu janda di tinggal cerai oleh suaminya. Memiliki satu anak dan hak asuh anak nya jatuh di tangan suaminya. Perempuan itu janda, ia merebut suami saya, sekaligus merebut ayah dari anak-anak saya. Mereka tertawa bahagia diatas penderitaan saya.

Saya sendiri tak tau apa yang harus saya lakukan, saya hanya memikirkan anak-anak karena mereka masih sangat kecil di usia mereka yang seharusnya menerima perhatian dari kedua orang tua nya, tapi harus menerima kenyataan yang pahit. Setiap saya pulang ke rumah orang tua saya untuk melihat mereka, pasti mereka menanyakan ayah nya. Mungkin ini semua sudah takdir, yang harus saya terima dengan ikhlas. Karena awalnya saya sendiri tak menyangka semua akan terjadi seperti ini. Begitu mudah ia meninggalkan saya tanpa merasakan perasaan saya, tanpa melihat kedua anaknya. dan tanpa mengingat pengorbanan saya selama hampir 4 tahun bersamanya. Saya berdo’a semoga Allah menguatkan iman saya dan memberikan pengganti yang lebih baik. Aamiin…