Nama saya anisa, saya menikah di
usia 22 tahun dan suami saya 24 tahun, kami menikah pd tanggal 19 desember
2010. Dan sudah di karuniai 2 orang putra. Sejak awal menikah, saya baru
menyadari bahwa suami saya ternyata laki-laki yang ringan tangan. Saya kerap
kali mendapatkan kekerasan fisik dari suami saya. Mungkin sudah tak terhitung
lagi berapa kali ia memukul saya. saya sudah terbiasa dengan tamparan, pukulan,
tonjokan, kepala saya di jedotin ke
tembok, leher saya di cekik kepala saya di injak, bahkan mulut saya pernah ia
tonjok berkali kali hingga berdarah badan saya dilempar dan banyak luka memar
bekas pukulan . Kemudian setelah ia memukul saya dengan mudah nya ia meminta
maaf. Dan ia lakukan lagi untuk kesekian kalinya. Saya selalu memafkan
kesalahannya. Dan bukan hanya kekerasan fisik saja, dia juga tipe suami yang
kasar dalam bertutur kata. Temperamental, egois selalu ingin menang sendiri.
Ia juga sering memarahi saya di
depan umum, di depan orang banyak tak sungkan ia memarahi saya dengan kata-kata
kasar dan sebutan nama-nama binatang. Saya merasakan kehidupan saya yang
seperti di neraka. Tak ada kebahagiaan, dan keharmonisan, selama ini saya
bertahan hanya untuk anak-anak. Bukan hanya itu, pada awal tahun 2014 suami
saya menjadi pemalas dalam menafkahi keluarga. Kami memiliki usaha sejenis game
online dan dana nya kami pinjam dari bank. Namun suami saya jadi malas untuk
berangkat bekerja. Sehari-harinya selalu sibuk dengan bermain game online dan
facebook. Hingga akhirnya suami saya tidak mampu membayar cicilan hutang ke
bank, dan suami saya pun dikeluarkan dari tempat kerja nya karena jarang masuk
kerja. Kami menunggak cicilan ber bulan bulan hingga pada puncaknya bulan
agustus 2014 kami benar-benar kehilangan segalanya. Rumah kami dari hasil
pemberian orang tua nya terpaksa kami jual untuk membayar cicilan dan denda
nya.
Satu bulan saya dan anak-anak
menetap di rumah orang tua nya karena ia menganggur dan tidak ada penghasilan sama
sekali untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dan ternyata nasib baik pun tiba,
saya mendapat panggilan kerja dan diterima bekerja. Saya mendapatkan pekerjaan
yang memiliki jabatan sebagai staff hrd. Sedangkan suami saya masih menganggur.
Kami memutuskan untuk pindah mencari rumah kontrakan agar tempat tinggal saya
dekat dengan lokasi kerja. Kami pun memutuskan untuk menitipkan kedua anak kami
tinggal dan di rawat oleh kedua orang tua saya.
Tak lama satu minggu setelah saya
bekerja, suami pun mendapatkan pekerjaan baru. Sebagai staff desain layout di
redaksi Koran. Kami hanya tinggal berdua di rumah kontrakan kami menengok
anak-anak kami setiap hari minggu sekali. Suamiku bekerja di malam hari dari
jam 4 sore pulang jam 12 malam. Akan tetapi ada keganjalan yang terlihat dari
tingkah suamiku. Dia bekerja sore tapi selalu stay di kantor dari pagi hingga
malam. Dia menjemput aku pulang kerja tetapi ia harus kembali ke kantor dengan
alasan kerja.
Dan saya mempercayainya, semakin
lama ia semakin kerasan di kantor hingga ia pulang larut malam. Terkadang ia
pulang jam 2 pagi, jam 3 pagi bahkan jam 6 pagi. Aku merasakan nya satu minggu
pertama di awal bulan November ia bahkan menginap di kantor dan tak pernah
pulang. Aku pun mulai tak nyaman dengan kondisi seperti ini hingga akhirnya
kami berdua sering cekcok dan tak ada lagi keharmonisan. Ia pun tak pernah
tentu memberikan nafkah. Ia bernagkat kerja pagi, dan pulang pun pagi . kami
hanya bertemu bila aq berangkat kerja dan menjemput ku di kantor. Setiap aku
menanyakan nafkah ia selalu punya banyak alasan. Belum gajian, gajiannya di
tunda, dan gajinya hanya separuh. Aku benar benar tak nyaman dengan keadaan
seperti itu. Waktunya terlalu banyak ia habiskan untuk bekerja di luar, tak ada
perhatian untuk saya dan anak-anak tetapi tidak ada timbal balik dari waktu
yang telah ia habiskan. Dan di satu minggu pertama awal bulan pun ia sering
mencari masalah dengan saya. Seolah-olah ia ingin memojokan saya sebagai
seorang yang bersalah. Menurutnya saya wanita yang terlalu banyak menuntut
dalam hal materi. Padahal saya hanya meminta kewajiban ia sebagai seorang
suami. Karena pendapatan saya sudah habis untuk membeli susu anak-anak, bayar
sewa kontrakan, dan membayar hutang suami saya.
Ia menginginkan berpisah tidak
ingin menemui saya selama satu bulan lamanya. Saya sudah tak sanggup untuk
menahan sabar dan akhirnya saya putuskan untuk mengadukan gugatan cerai ke
pengadilan agama. Sebelum saya daftar pengaduan ada hal yang membuat saya
tercengang. Ia mengganti kata sandi facebook kemudian facebook nya saya
verifikasi ke email dia. Dan saya melihat inbox dia dengan temannya. Bahwa dia
akan mabuk-mabukan dan sewa pelacur.
Bukan hanya itu, 2 hari setelah
saya pengaduan ke pengadilan agama, ada hal yang membuat hati saya hancur. Saya
melihat dia memiliki akun palsu dengan nama samara orang lain dengan photo
profil dia dan photo sampul perempuan. Ketika saya selidiki ternyata akun
facebook itu akun yang lama yang selama ini saya cari tapi tak ada. Ia sengaja
memblokir facebook saya agar saya tidak bisa melihat akun facebook nya dia yang
palsu. Karena saya bisa mengetahui akun facebook nya yang palsu itu dari akun
facebook nya saya verifikasi ke emailnya dia.
Saya melihat pada tanggal dan
hari dimana mereka berdua berkomentar mesra pada saat itu pula suami saya masih
mengantar jemput saya kerja. Diamana ia bisa perhatian dengan perempuan lain
tetapi di jam dan hari itu juga ia massage ke saya dengan perkataan kasar, dan
penuh kebencian seolah olah memang ingin meninggalkan saya karena sudah ada pengganti
saya. Di saat itu saya baru sadar ternyata apa yang selama ini membuat ia
bersikap aneh dan berubah ada factor lain yang menjadi alasannya. Ia laki-laki
yang posesive terhadap saya. Ia sangat pencemburu pada saya, ia melihat saya
berteman di kontak b
b dengan laki-laki saja ia marah. Hingga menuduh saya telah
berselingkuh. Ternyata tuduhan yang ia tujukan pada saya hanya untuk menutupi
kesalahannya. Bahwa sebenarnya ia yang telah menghianati saya sejak dulu.
Setelah saya tau ia memiliki akun
facebook yang lain, saya meminta ia
untuk menjelaskan semua nya. Kenapa ia bisa dengan tega menyakiti saya dan
mengecewakan anak-anaknya. Saya pun menghilangkan ego saya demi anak-anak untuk
menahan dia agar jangan meninggalkan kami. Tapi saya mendengar jawaban yang tak
pernah saya bayangkan sebelumnya. Bahwa ia lebih memilih perempuan itu, ia tak
ingin meninggalkan perempuan itu, ia tak ingin melukai hati perempuan itu, tapi
ia bisa melukai hati saya dan mengecewakan anak-anak nya. Ia tetap pergi dan
berjanji tak akan merubah keputusannya. Saya sudah cukup kecewa dan terlalu
sakit untuk menerima semua kenyataan ini. Mereka sudah berkomitmen dari dulu
untuk merencanakan semua ini. Perempuan itu teman sekolah nya dulu, perempuan
itu janda di tinggal cerai oleh suaminya. Memiliki satu anak dan hak asuh anak
nya jatuh di tangan suaminya. Perempuan itu janda, ia merebut suami saya,
sekaligus merebut ayah dari anak-anak saya. Mereka tertawa bahagia diatas
penderitaan saya.
Saya sendiri tak tau apa yang
harus saya lakukan, saya hanya memikirkan anak-anak karena mereka masih sangat
kecil di usia mereka yang seharusnya menerima perhatian dari kedua orang tua
nya, tapi harus menerima kenyataan yang pahit. Setiap saya pulang ke rumah
orang tua saya untuk melihat mereka, pasti mereka menanyakan ayah nya. Mungkin
ini semua sudah takdir, yang harus saya terima dengan ikhlas. Karena awalnya
saya sendiri tak menyangka semua akan terjadi seperti ini. Begitu mudah ia
meninggalkan saya tanpa merasakan perasaan saya, tanpa melihat kedua anaknya.
dan tanpa mengingat pengorbanan saya selama hampir 4 tahun bersamanya. Saya
berdo’a semoga Allah menguatkan iman saya dan memberikan pengganti yang lebih
baik. Aamiin…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar